Jakarta — Dunia kepolisian Indonesia kembali diguncang dengan pttogel munculnya kabar mencengangkan yang menyeret nama Kompol Yogi, seorang perwira menengah polisi, dalam pusaran dugaan pesta asusila yang turut melibatkan Brigadir Nurhadi dan seorang perempuan misterius yang disebut-sebut dibayar untuk hadir dalam pesta tersebut. Skandal ini menjadi perbincangan hangat publik, tak hanya karena melibatkan anggota kepolisian aktif, tetapi juga karena mengungkap sisi gelap dari institusi yang seharusnya menjaga moral dan hukum.
Pesta yang Berujung Skandal
Bermula dari sebuah laporan internal yang bocor ke media, nama Kompol Yogi mencuat setelah informasi mengenai sebuah pesta pribadi beredar. Dalam pesta yang digelar secara tertutup itu, hadir pula Brigadir Nurhadi dan seorang perempuan yang hingga kini identitasnya masih ditelusuri lebih jauh. Namun yang membuat peristiwa ini mencengangkan adalah pengakuan dari saksi bahwa perempuan tersebut bukanlah tamu biasa — ia disebut-sebut “dibayar” untuk hadir dan “melayani” dalam pesta tersebut.
Menurut laporan awal, pesta ini tidak hanya diisi dengan perjamuan dan musik, tetapi juga aktivitas tidak pantas yang jauh dari etika profesi aparat hukum. Salah satu saksi menyebut bahwa suasana pesta berlangsung bebas dan tanpa kontrol, hingga akhirnya memicu kecurigaan dari pihak internal kepolisian yang sedang menyelidiki perilaku tak pantas beberapa anggotanya.
Siapa Perempuan yang Dimaksud?
Identitas perempuan yang disebut-sebut dibayar oleh Kompol Yogi memang belum dirilis secara resmi oleh pihak berwenang, namun beberapa informasi menyebut bahwa ia adalah seorang pekerja hiburan malam yang sudah beberapa kali ‘dipakai’ oleh oknum aparat untuk menemani pesta-pesta semacam ini. Diduga, perempuan tersebut direkrut melalui perantara dan dibayar dengan nominal cukup besar demi menjaga kerahasiaan dan “keramahan”-nya selama acara.
Dalam perkembangan terbaru, penyidik internal Divisi Propam (Profesi dan Pengamanan) Mabes Polri dikabarkan tengah melacak komunikasi digital antara Kompol Yogi dan beberapa pihak yang diduga terlibat dalam pengaturan pesta tersebut. Rekam jejak pesan, transfer uang, dan bukti foto atau video tengah dikumpulkan sebagai bagian dari investigasi menyeluruh.
baca juga: ini-kekayaan-5-personel-spice-girls-setelah-30-tahun-terkaya-miliki-rp-73-triliun
Respons Kepolisian: Penyelidikan Internal Dipercepat
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo telah memerintahkan agar kasus ini diselidiki secara tuntas dan terbuka. Dalam pernyataan singkat kepada awak media, ia menegaskan bahwa tak ada tempat bagi oknum yang mencoreng institusi kepolisian dengan perilaku amoral dan melanggar hukum.
“Jika terbukti ada pelanggaran kode etik atau bahkan pelanggaran pidana, maka proses hukum akan ditegakkan. Siapa pun dia, tak peduli pangkatnya,” ujar Jenderal Listyo.
Kompol Yogi dan Brigadir Nurhadi sendiri kini sudah dinonaktifkan sementara dari jabatannya untuk mempermudah proses pemeriksaan. Mereka diminta memberikan klarifikasi atas keterlibatan mereka dalam acara yang menjadi sorotan tersebut. Keduanya juga disebut sudah menjalani pemeriksaan intensif oleh tim internal yang dipimpin langsung oleh Divisi Propam.
Sorotan Publik dan Isu Moralitas di Institusi Polri
Kasus ini kembali membangkitkan kekhawatiran publik tentang lemahnya pengawasan internal dan adanya budaya impunitas di kalangan aparat. Tidak sedikit masyarakat yang mengkritik gaya hidup mewah dan perilaku tidak pantas yang ditunjukkan oleh oknum aparat, terutama di tengah upaya reformasi birokrasi yang tengah digalakkan pemerintah.
“Ini bukan hanya soal moral individu, tapi soal bagaimana sistem bisa membiarkan hal-hal seperti ini terus terjadi di balik dinding institusi,” ujar Andi Yusran, pengamat kepolisian dari Universitas Indonesia.
Lebih lanjut, para aktivis dan LSM yang fokus pada reformasi hukum mendesak agar investigasi ini tidak berhenti pada dua nama saja. Mereka menekankan pentingnya membuka kemungkinan adanya jaringan atau praktik yang lebih luas di dalam tubuh kepolisian, yang melibatkan penyalahgunaan kekuasaan untuk kepentingan pribadi.
Penutup: Ujian Integritas untuk Kepolisian
Kasus pesta Kompol Yogi dan Brigadir Nurhadi bersama perempuan bayaran ini adalah ujian nyata bagi institusi Polri untuk menunjukkan bahwa mereka serius dalam menegakkan integritas dan profesionalitas. Masyarakat menanti langkah konkret, bukan hanya sekadar rotasi jabatan atau sanksi administratif.
Apabila terbukti ada pelanggaran serius, maka sanksi pidana harus ditegakkan tanpa pandang bulu. Sebab, hanya dengan ketegasan dan transparansi, kepercayaan masyarakat terhadap institusi penegak hukum dapat dipulihkan.
Sementara itu, publik menanti hasil penyelidikan lanjutan dan pengungkapan identitas lengkap dari sosok perempuan yang menjadi bagian dari skandal ini. Kasus ini masih akan terus bergulir, dan kita hanya bisa berharap keadilan tidak berhenti di meja sidang internal semata.
sumber artikel: jdid99.id